Awas, Membahayakan! Ini Alasan Mengapa Tidak Boleh Pacaran Sebelum Menikah

IKLAN
IKLAN



Siapa ya yang tidak pernah mendengar kata pacaran? Sudah pasti semua orang di bumi ini pernah mendengar bahkan pernah melakukan yang namanya pacaran. Betul kan?

Harus kita ketahui dalam konteks kehidupan jangka panjang, saat ini ada gejala sosial yang perlu dikoreksi terkait dengan hubungan muda-mudi. Kebanyakan masyarakat umum kini telah dibentuk pikirannya untuk menerima aktifitas bebas bernama pacaran yang terselip di antara sekolah, organisasi, kuliah, bahkan akan menikah.

Pacaran yang dimaksud adalah aktifitas terbuka maupun rahasia, yang melibatkan sepasang manusia berlawanan jenis yang sedang mewujudkan perasaan kasih sayang berupa perilaku mencari kesenangan baik berupa menghabiskan waktu bersama sekadar untuk bercakap-cakap yang tidak perlu, maupun tindakan lain di luar kendali akal dan logika.

Apabila aktifitas berpacaran tersebut dilakukan dalam ikatan pernikahan, maka keindahan dunia yang terasa akan semakin lengkap dengan adanya jaminan keamanan saat di akhirat kelak. Adapun bagi yang menjalaninya sebelum ada ikatan pernikahan, sungguh banyak ranjau cobaan yang siap untuk meledak atau banyak duri masalah yang pasti kan menusuk, mencelakakan pelakunya di dunia dan di akhirat. Sungguh, sangatlah rugi untuk diri sendiri.

Lalu, mengapa tidak boleh berpacaran sebelum menikah?
1. Membuang-buang waktu untuk sesuatu yang dapat merusak masa depan dan mempermainkan hati, dalam bahasa anak muda masa kini “pengharapan palsu”.
2. Menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk manfaat yang belum nyata dan jauh dari kemuliaan atau boros.
3. Tidak aman karena tidak ada kontrak, berpotensi konflik dengan merugikan pihak wanita, karena lemah di sisi hukum.
4. Berbohong dan berdusta menjadi hal biasa demi menyembunyikan kebiasaan asli atau menenangkan hati lawan jenis atau orang yang disukai.
5. Wanita dapat berpacaran dengan lebih dari satu pria, dan sebaliknya, tanpa saling mengetahui. Dari sinilah belajar tentang perselingkuhan.
6. Godaan syaitan untuk berzina sangat kuat, seperti kuatnya godaan kepada Nabi Adam untuk memakan buah khuldi.
7. Setelah zina, ada potensi munculnya anak di luar pernikahan, lalu kebanyakan trend masa kini seorang laki-laki tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan. Dan Status hukumnya lemah bila tanpa ada ayah.
8. Bila anak tidak diinginkan oleh ibu atau ayahnya, ada potensi pembunuhan terhadap janin maupun bayi.
9. Si pria harus bertanggung jawab bila si wanita hamil, padahal belum tentu wanita itu berpacaran hanya dengan 1 pria.
10. Dokumentasi mesum yang memalukan dapat saja muncul beberapa tahun kemudian, bahkan setelah menikah dengan orang lain.
11. Menularnya penyakit kelamin, hingga AIDS yang mematikan.
12. Kualitas diri menjadi rendah, tak ubahnya barang display yang bebas disentuh siapa saja yang sedang menjadi pacar, padahal yang dinikahinya nanti besar kemungkinan adalah orang lain.
13. Mengundang ghibah, menjadi gunjingan kerabat, dapat mempermalukan orang tua.
14. Anak (di masa depan) sulit dilarang berpacaran, karena tahu bahwa orang tuanya pun dulu berpacaran.

Harus  diingat! Manusia diciptakan dengan keunggulan dan kelemahan. Salah satu kelemahan manusia adalah ketertarikan terhadap lawan jenis yang timbul dari interaksi yang sering maupun spontan. Hubungan tanpa komitmen dapat dianggap mempermainkan hati dengan sengaja, dan sulit untuk dicari penawarnya apabila salah satu merasa dikecewakan.

Jangan dekati lawan jenis (target), kecuali tujuan Anda adalah untuk menikah dengannya. Apabila Anda belum siap untuk menikah, jangan mau didekati, maupun mendekati lawan jenis.

Dijelaskan dalam hadist bahwa:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi anak cucu Adam bagian dari zina, yang ia pasti mengetahuinya. Zina mata berupa pandangan, zina lisan berupa ucapan, dan jiwa mengharap dan menginginkan. Dan kemaluan yang membenarkan atau mendustainya.” [Hadits Riwayat Muttafaqun ‘alaihi]

Jadi untuk solusinya, bukanlah pacaran lalu menikah, tetapi menikahlah dulu, baru pacaran.
Bila tidak berpacaran, bagaimana kita bisa tahu tentang calon pasangan yang akan menikah dengan kita? Simak penjelasan di bawah ini:
1. Cukup dengan berkenalan, tanyakan hal-hal yang perlu untuk ditanyakan, misalnya pekerjaannya, penghasilannya, misinya berkeluarga, hobi dan kesenangannya, kesehatannya, jumlah tanggungannya dalam keluarga, dll.
2. Temui calon pasangan di bawah pengawasan muhrimnya/muhrim kita, pandanglah hal yang menarik dari dirinya.
3. Cari referensi dari orang ketiga, konfirmasikan tentang yang ingin diketahui.
4. Amati dari jauh seperlunya, tanpa perlu diketahui oleh yang sedang diamati.
5. Pertimbangkan persamaan dan perbedaan, antisipasi hal-hal yang berpotensi menjadi penyebab konflik.
6. Memohon petunjuk kepada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik sebagai pasangan.

Cukup sederhana kan prosesnya? Bukankah yg itu lebih mudah? Nah, selain itu dijelaskan juga dalam hadist:
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.” (HR. Bukhori-Muslim).

Luar Biasa segala aturan yang dikeluarkan oleh Allah swt. Tidak ada yang bisa menandingi. Selalu saja kesemuanya adalah hal-hal yang baik dan terbaik untuk hamba-Nya.


Klik SHARE bila anda setuju dengan artikel ini

IKLAN
loading...
loading...