Keluarga Anda Perokok? Baca Kisah Ini; MIRIS!





Kita semua tahu, kini rokok bukanlah hal yang sulit ditemukan, asap yang melayang bebas di udara, putung rokok dan bungkus yang berserakan dimana-mana, itu sudah menjadi hal yang biasa dan lumrah di negeri ini.
Sebenarnya apa sih manfaat merokok? Bukankah rokok itu lebih banyak memiliki kerugian daripada manfaatnya? Lalu mengapa masih saja mengkonsumsi rokok?
Ada salah sorang menceritakan pengalaman pedih dalam hidupnya. Sebut saja dia adalah SM.
SM­à Ini sekedar berbagi saja.. Sejak awal pernikahanku 11 tahun yang lalu, aku selalu meminta pada suamiku untuk berhenti merokok. Namun setiap aku meminta, setiap itu pula suamiku selalu berkata,” …hanya 4 batang sehari koook…tidak banyak..!”
Awalnya setahun kebelakang, dia mulai merasa tidak enak badan, panas, maag sering kambuh dan sakit badan. Setiap diajak ke dokter dia selalu menolak dan minta dibelikan obat ke apotik untuk mengobati maag, demam dan sakit badannya.
Kuikuti saja maunya. Sampai kemudian 4 bulan yang lalu, dia panas tinggi, mual, pusing dan sesak. Kupaksa dia berobat dan mengancam aku mau pergi kalau dia tidak mau diajak berobat. Akhirnya dia pun mau.
Pada pengobatan pertama, dia mendapat beberapa macam obat, termasuk obat maag dosis tinggi. 2 hari kemudian maagnya sembuh tapi mengeluh dadanya masih sakit dan sesak.
Berobat kedua dia diberi vitamin untuk sendi dan obat untuk ototnya agar rileks. Sejak minum obat itu dia jadi tidak bisa tidur, dan sakitnya pun tetap tidak berkurang.
Berobat ketiga, ganti obat tapi tetap tidak menghilangkan sesak di dadanya. Berobat ke 4 akhirnya dokter merujuk untuk rontgen. Siang sepulang ngajar langsung ke sana, sorenya balik lagi ke dokter.
Dan akhirnya suamiku di diagnosa mengidap Bronkhitis kronis. Dokter langsung bertanya,”rokok?”…ya, rokoklah penyebabnya. Aku menghela nafas sejenak sambil meneteskan air mata.
Sejak saat itu suamiku bolak balik ke Spesilis Paru. Sejak saat itu juga suamiku tidak bisa lagi bekerja untuk mencari nafkah penghidupan keluarga, apalagi bekerja untuk memangku anak kita yang masih berusia 2 tahun pun bisa membuatnya sesak dada selama berjam-jam.
Sejak saat itulah aku resmi menjadi tulang punggung keluarga, seorang istri yang harus mencari nafkah untuk keluarga. Sendiri.
Menyesal? Tidak, untukku. Mengeluh? Tidak, bagiku. Sedih? Ya, sejujurnya aku sangat sedih.
Tapi aku sadar. Tak ada gunanya menyesali karena semua sudah terjadi, selaku ada hikmah kebaikan dibalik setiap kejadian termasuk kejadian ini. Kutulis kisah ini bukan karena ingin mengeluh atau curhat, tapi aku tidak ingin ada Suami yang lain yang mengalami hal serupa, dan tidak ada anak yang lain yg menjadi anak yg kekurangan kasih dan kebersamaan dengan sosok ibu karena ibu sering pergi untuk mencari nafkah keluarga.
Wahai para laki-laki, para suami, sayangilah dirimu… jauhilah benda itu sebelum menyesal! Karena ketika hal itu terjadi, hanya ada satu perasaan yg akan kau rasakan.. menyesal yg tiada ujungnya…
Apakah kau tega menyaksikan istrimu kehilangan jam tidurnya demi menjadikannya satu-satunya waktu untuk beres2 rumah? Ketika suami hnya bisa duduk menikmati sakit, dia akan menjadikan waktu 24 jamnya sebagai siang…
Tegakah? Jangan!? Jangan kau biarkan rokok mengambil satu2nya kesempatanmu untuk menjadi tulang punggung keluaga…
Jangan biarkan anak2mu harus kehilangan keberadaan ibunya karena ia harus mencari nafkah yg harusnya itu menjadi tugasmu. Jangan kau biarkan airmata dan peluh istrimu bercampur dalam setiap detik dan waktu.
Cukup. Sudahi hari ini dari kegiatan merokokmu.. ingat, disampingmu kini ada keluarga yang teramat menyayangimu… buah hati yang selalu menantikan kasih sayangmu…dan istri yang selalu setia disampingmu setiap waktu.
Previous
Next Post »